MENGENAL KOPI ACEH GAYO

Aceh yang terletak di ujung utara pulau Sumatera dan memiliki beragam jenis keunikan, mulai dari budaya, adat istiadat, kuliner khas, bentangan alam yang indah hingga hal unik lainnya. Tak hanya itu, Aceh dikenal juga sebagai salah satu sentral produksi kopi arabika terbesar tak hanya di Indonesia, namun juga di Asia dengan kualitas kopinya yang baik di level dunia. Kopinya yang lebih dikenal dengan sebutan Kopi “Gayo” karena karakteristik aroma dan rasa kopinya yang khas. Kopi gayo merupakan varietas kopi arabika yang menjadi salah satu komoditi unggulan yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah, Indonesia.

Perkebunan di Gayo, Aceh Tengah rata-rata berada pada ketinggian 1.000 hingga 1.200 mdpl. Lokasinya berada di sekitar kota Takengon dan dekat dengan Danau Tawar. Mayoritas suku yang tinggal di daerah ini adalah orang-orang Gayo

Perkebunan di daerah ini dikelola oleh perorangan dan budidaya tanamannya dilakukan di tempat teduh (shade grown coffee). Biji yang dihasilkan adalah biji jenis arabika yang memang cocok ditanam di sini.

Karakter Rasa Kopi Arabica Gayo

Karakter rasa kopi gayo yang kuat, tingkat keasaman yang rendah dengan sedikit rasa rempah (spice), membuatnya sangat digemari, terutama di Amerika Serikat dan Eropa. Karakter yang clean membuatnya laku sebagai campuran house blend. Ciri khas Kopi Arabika Gayo adalah cenderung memiliki rasa yang tidak konsisten. Hal itu terjadi karena perkebunan kopi di daerah Dataran Tinggi Gayo memiliki ketinggian yang berbeda, serta cara budidaya yang beragam. Kalau kopi yang ditanami di areal yang berbeda, dengan ketinggian yang berbeda, serta varietas yang beragam, maka memungkinkan karakteristik kualitas fisik dan cita rasa juga akan berbeda pula. 

Proses Pengolahan

Secara garis besar dan berdasarkan cara kerjanya, maka terdapat dua cara pengolahan buah kopi basah menjadi kopi beras. Kopi beras berasal dari buah kopi basah yang telah mengalami beberapa tingkat proses pengolahan.  Ada dua cara pengolahan buah kopi, diantaranya adalah pengolahan basah dan pengolahan kering. Pengolahan buah kopi secara basah biasa disebut WIB (West lndische Bereiding), sedangkan pengolahan cara kering biasa disebut OIB (Ost Indische Bereiding).

Perbedaan pokok dari kedua proses tersebut diatas adalah pada proses kering pengupasan daging buah, kulit tanduk dan kulit ari dilakukan setelah biji kopi kering (kopi gelondong), sedangkan pada proses basah pengupasan daging buah dilakukan sewaktu biji kopi masih basah.

Metode Pengolahan Kering

Metode ini sangat sederhana dan sering digunakan untuk kopi robusta dan juga 90% kopi arabika di Brazil. Buah kopi yang telah dipanen segera dikeringkan terutama buah yang telah matang. Pegeringan buah kopi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :

  1. Pengeringan Alami
  2. Pengeringan Buatan 

Metode Pengolahan Basah

Metode Pengolahan basah meliputi : penerimaan, pulping, fermentasi, pencucian, pengeringan, Proses Akhir, Pengawetan dan penyimpanan.

1. Penerimaan

Hasil panen harus secepat mungkin dipindahkan ke tempat pemerosesan untuk menghindari pemanasan langsung yang dapat menyebabkan kerusakan (seperti : perubahan warna buah, buah kopi menjadi busuk).

2. Pulping

Pulping bertujuan untuk memisahkan kopi dari kulit terluar dan mesocarp (bagian daging), hasilnya pulp. Prinsip kerjanya adalah melepaskan exocarp dan mesocarp buah kopi dimana prosesnya dilakukan dilakukan didalam air mengalir. Proses ini nantinya akan menghasilkan kopi hijau kering dengan jenis yang berbeda-beda.

3. Fermentasi

Proses fermentasi bertujuan untuk melepaskan daging buah berlendir (mucilage) yang masih melekat pada kulit tanduk dan pada proses pencucian akan mudah terpisah sehingga mempermudah proses pengeringan.

4. Pencucian

Pencucian secara manual dilakukan pada buah kopi dari bak fementasi yang dialirkan dengan air melalui saluran dalam bak pencucian yang segera diaduk.

5. Pengeringan

Pengeringan pendahuluan kopi parchment basah, kadar air berkurang dari 60 % menjadi 53 %. Sebagai alternatif kopi dapat dikeringkan dengan sinar matahari 2 atau 3 hari dan sering diaduk. Kadar air dapat mencapai 45 %. Pengeringan kopi Parchment dilanjutkan, dilakukan pada sinar matahari hingga kadar air mencapai 11 % yang pada akhirnya dapat menjaga stabilitas penyimpanan.

6. Proses Akhir

Proses selanjutnya yaitu proses pembersihan akhir yang bertujuan untuk menjaga penampilan sehingga baik untuk diekspor maupun diolah kembali. Tahapan proses pembersihan akhir ini meliputi :

7. Pengawetan dan penyimpanan

Buah kopi dapat disimpan dalam bentuk buah kopi kering atau buah kopi parchment kering yang membutuhkan kondisi penyimpanan yang sama. Biji kopi KA air 11 % dan RH udara tidak lebih dari 74 %.

Untuk kopi Arabica  dapat dipesan di Coffeland Indonesia. Kami juga menyediakan,  Arabika Aceh Gayo SpecialtyArabika Papua Wamena Specialty, Arabika Bali Kintamani SpecialtyArabika Flores Specialty, Arabika Java SpecialtyArabika Malabar Specialty, Arabika Sumatera Mandheling, dan Arabika Toraja Specialty.. Kemasan mulai 250gr, 500gr dan 1Kg.

Untuk informasi lebih lanjut dan pembelian, silahkan hubungi Tim Marketing kami,

 

 

 

Source: 1

 

 

 

 

Leave a Reply